Kamis, 31 Maret 2016

Makalah Positivistic August Comte


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Positivisme yang menandai krisis-krisis di barat itu sebenarnya marupakan salah satu dari sekian banyak aliran aliran filsafat di barat, dan aliran ini berkembang sejak abad ke-19 dengan perintisnya adalah seorang ahli filsafat dari Prancis yang bernama Auguste Comte. Meski dalam beberapa segi mengandung kebaruan namun pandangan ini merupakan bukan suatu hal yang sama sekali baru, karena pada masa sebelumnya Kant sudah berkembang dengan pendangannya mengenai empirisme yang dalam beberapa segi berkesesuaian dengan positivisme.
B.     Rumusan masalah 
1.      Apa pengertian positivisme ?
2.      Apa tiga zaman perkembangan pemikiran manusia ?
3.      Apa kritikan Popper terhadap positivisme Comte ?
4.      Apa itu susunan ilmu pengetahuan ?
5.      Apa itu altruisme ?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui pengetian positivisme
2.      Mengetahui tiga zaman perkembangan pemikiran manusia
3.      Mengetahui kririkan Popper terhadap positivisme Comte
4.      Mengetahui susunan ilmu pengetahuan
5.      Mengetahui apa itu altruisme




                                                                                                                                       

BAB II
PEMBAHASAN

Positivistic diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1850) yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga pegawai negeri beragama katholik. Karya utama A. Comte adalah Cours de Philosophie Phositive. Kursus tentang Filsafat Positif (1830-1842), yang diterbitkan dalam enam jilid. Selain itu karyanya inilah Comte menguraikan secara singkat pendapat-pendapat positivistic, hukum tiga stadia, klasifikasi ilmu-ilmu pengetahuan dan bagan mengenai tatanan dan kemajuan.
1.      Pengertian Positivisme
            Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif disini sama artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. dalam hal ini positivisme dapat diartikan sebagai suatu pandangan yang sejalan dengan empirisme, menempatkan penghayatan yang penting serta mendalam yang bertujuan untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan yang nyata, karena harus didasarkan kepada hal-hal yang positivisme. Dimana positivisme itu sendiri hanya membatasi diri kepada pengalaman-pengalaman yang hanya bersifat objektif saja. Hal ini berbeda dengan empirisme yang bersifat lebih lunak karena empirisme juga mau menerima pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau pengalaman-pengalaman yang bersifat subjektif  juga.[1] Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Maka filsafat pun harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu, positivisme menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat” benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya”, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.
Tugas khusus filsafat ialah mengoordinasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang beraneka ragam coraknya. Maksud positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-cintakan oleh empirisme. Positivisme juga mengutamakan pengalaman. Akan tetapi, berbeda dengan empirisme inggris yang menerima pengalaman batiniah atau subjektif sebagai sumber pengetahuan, positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah tersebut. Ia hanya  mengandalkan fakta-fakta belaka.[2]
Intinya positivisme ingin membersihkan ilmu dari spekulasi-spekulasi yang tidak dapat dibuktikan secara positif. Comte ingin mengembangkan ilmu dengan melakukan percobaan (eksperimen) terhadap bahan factual yang menyusun spekulasi-spekulasi rasional yang tidak dapat dibuktikan secara positif lewat eksperimen.[3]
2.      Tiga zaman perkembangan pemikiran manusia
Titik tolak ajaran Comte yang terkenal adalah tanggapannya atas perkembangan manusia, baik perorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman. Menurutnya, perkembangan menurut tiga zaman atau tiga stadia ini merupakan hokum yang tetap. Kerena tiga zaman itu adalah zaman teologis, zaman metafisis dan zaman ilmiah atau positif.
Zaman teologis
Pada zaman teologis manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk insani biasa. Zaman teologis dibagi menjadi tiga periode yaitu :
A.    Animisme merupakan tahapan yang paling primitife, karena benda-benda sendiri dianggap mempunyai jiwa.
B.     Politeisme merupakan perkembangan dari tahap pertama, dimana pada tahap ini manusia percaya pada banyak dewa yang masing-masing menguasai suatu lapang tertentu; dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar, dan sebagainya.
C.     Monoteisme merupakan merupakan tahap yang lebih tinggi dari kedua tahap sebelumnya. Karena pada tahap ini manusia hanya memandang satu tuhan.

Zaman metafisis
Pada zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya “kodrat” dan “penyebab”. Metafisika di zaman ini sangat dijunjung tinggi. Tahap metafisik sebenarnya merupakan suatu masa dimana disini adalah masa perubahan dari masa teologik, dimana pada masa teologik tersebut seseorang hanya percaya pada satu doktrin saja dan tidak mencoba untuk mengkritisinya. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai bertanya-tanya dan mulai untuk mencari bukti-bukti yang nyata terhadap pandangan suatu doktrin. Tahap metafisik menggunakan kekuatan atau bukti yang nyata yang dapat berhubungan langsung  dengan manusia. Ini adalah abad nasionalisme dan kedaulatan umum sudah mulai tampak, atau sring kali tahap ini disebut sebagai abad remaja.[4]

Zaman positif
Zaman ini di angap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Karena pada zaman ini tidak ada lagi usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat pada di belakang fakta-fakta. Manusia kini telah membatasi diri dalam penyelidikannya pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionya, manusia berusaha menetapkan relasi-relasi atau hubungan-hubungan persamaan dan urutan yang terdapat antara fakta-fakta. Pada zaman terahir inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Hukum tiga zaman ini tidak saja berlaku bagi manusia sebagai anak manusia berada pada zaman teologis, pada masa remaja ia masuk zaman metafisis dan pada masa dewasa ia memasuki zaman positif. Demikian juga ilmu pengetahuan berkembang mengikuti tiga zaman tersebut yang akhirnya mencapai puncak kematangannya pada zaman positif.  ­
Pada tahap positiflah penyelidikan ilmiah benar-benar berkembang dan ilmu sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan.
            Positivisme comte kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para pemikir yang dikenal dengan lingkaran wina yang didirikan tahun 1924. Anggota wina antara lain: Moritz Schlick (1882-1936), Hans Reichenbach (1891-1955), dan Otto Newrath (1882-1975).Kelompok ini bertujuan memperbarui positivism klasik ciptaan comte dan memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Mereka mendapat pengaruh dari empirisme dan positivisme (Hume,John Struat Mill, dan Ernst Mach), metode ilmu empiris yang dikembangkan ilmuan sejak abad ke-19 (Poincare dan Einstein), serta perkembangan logika simbolis dan analisis logis (Frege, Wittgenstein, B. Russel, dan Witehead).
Lingkaran wina dikenal dengan nama neopositivisme, positivism logis, dan empirisme logis. Pokok pikiran kelompok wina tentang ilmu yaitu:
1.      Sumber pengetahuan adalah pengalaman, pengalaman tentang data-data indrawi
2.      Dalil-dalil matematika yang tidak dihasilkan melalui pengalaman diakui keberadaannya dan digunakan untuk mengolah data pengalaman indrawi.
3.      Pernyataan-pernyataan dinyatakan bermakna jika terbuka untuk diverivikasi (dibuktikan secara empiris), pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diverivikasi seperti etika, estetika, dan metafisika dinyatakan sebagai pernyataan yang tidak bermakna.
4.      Menolak pembedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social.
5.      Berupaya mempersatukan semua ilmu di dalam suatu bahasa ilmiah yang bersifat universal.
Kelompok wina beranggapan bahwa pembicaraan tentang filsafat ilmu pada hakikatnya adalah pembicaraan tentang logika ilmu. Oleh karenannya, harus disusun berdasarkan analogi logika formal yang menekankan bentuk, bukan isi proposissi dan argumen. Yang dipentingkan bukan kenyataan ilmu, melainkan yang seharusnya terjai di dalam ilmu.
3.      Kritik Popper terhadap positivisme Comte
Karl Raimund Popper menentang kelompok wina. Bagi Popper bermakna dan tidak bermaknanya suatu ungkapan/pernyataan tidak ditemukan oleh verivikasi atau pengujian secara empiris. Popper lebih menekankan perbedaan antara pernyataan ilmiah dan tidak ilmiah, bukan perbedaan antara pernyataan yang bermakna dan tidak bermakna.                                                                                                                                                                                                                          
            Popper mengatakan hukum-hukum ilmiah dapat berlaku bukan dengan cara pembenarannya lewat verivikasi, melainkan lewat falsifikasi atau dapat dibuktikan salah. Dalam bentuk operasinalnya, jika kita telah dapat menyusun hipotesis, yang harus dilakukan bukanlah mengumpulkan sebanyak mungkin data untuk mendukung atau membenarkan hipotesis, melainkan, mencari data untuk membuktikan bahwa hipotesis itu salah. Jika hipotesis itu dapat bertahan atau tidak dapat dibuktikan salah maka untuk sementara hipotesis itu dapat diterima. Jika dapat dibuktikan salah maka hipotesis itu harus ditinggalkan dan diganti oleh hipotesis baru. Dengan cara seperti inilah ilmu dapat berkembang maju.
Untuk memperjelas pendapat popper tentang falsifikasi berikut ini kutipan contoh yang diberikannya: “dengan observasi terdapat angsa putih, betapa besarpun jumlahnya, tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua angsa itu berwarna putih, tetapi sementara itu cukup satu kali observasi terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal pendapat tadi.”[5]

4.      Susunan Ilmu Pengetahuan
Urutan ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa sehingga yang satu selalu mengandalkan ilmu pengetahuan yang lahir mendahuluinya. Dengan demikian, Comte membedakan ilmu pengetahuan pokok, yaitu ilmu pasti, astronomi, fisika, kimia, biologi dan puncaknya pada sosiologi. Semua ilmu pengetahuan, dapat dijabarkan kepada salah satu dari enam ilmu tersebut diatas.
Ilmu pasti merupakan ilmu yang palinng fundamental dan menjadi pembantu bagi semua ilmu lainnya. Selain re;asi-relasi matematis, astronomi membicarakan juga tentang gerak. Dalam fisika ditambah lagi dengan penelitian tentang materi. Selanjutnya kimia membahas proses perubahan yang berlangsung dalam materi yang telah dibicarakan dan dikupas dalam fisika. Perkembangan selanjutnya menjelma dalam biologi yang kini membicarakan kehidupan. Akhirnya, sampailah pada puncak ilmu pengetahuan yang diberi mana sosiologi yang mengambil objek penyelidikannya gejala-gejala kemasyarakatan yang terdapat pada makhluk-makhluk hidup yang merupakan objek biologi, ilmu sebelum sosiologi. Oleh sebab itulah sosiologi merupakan puncak dan penghabisan untuk usaha manusia seluruhmya, sosiologi baru dapat berkembang sesudah ilmu-ilmu lain mencapai kematangan.
Oleh karena itu, Comte beranggapan bahwa selaku “pencipta” sosiologi ia mengantar ilmu pengetahuan masuk ke taraf positifnya. Dengan demikian, merancang sosiologi Comte mempunyai maksud praktis, yaitu atas dasar pengetahuan tentang hukum-hukum yang menguasai masyarakat mengadakan susunan masyarakat yang lebih sempurna.[6]

5.      Altruisme
Altruisme merupakan ajaran Comte yang merupakan kelanjutan dari ajaran tiga zaman. Altruisme diartiakan sebagai menyerah diri kepada keseluruhan masyarakat. Bahkan bukan “salah satu masyarakat”, melainkan I’humanite, “ suku bangsa manusia”, pada umumnya. Jadi, altruisme bukan sekedar lawan “egoisme”.
Keteraturan masyarakat yang dicari dalam positivisme hanya dapat dicapai kalau semua orang dapat menerima altruism sebagai prinsip dalam tindakan mereka. Sehubungan dengan altruisme ini Comte menganggap bangsa manusia menjadi semacam pengganti Tuhan. Keilahian baru dari positivisme ini disebut Ie Grand Etre, “ Maha Makhluk”. Untuk ini Comte mengusulkan untuk mengorganisasikan semacam kebaktian untuk Ie Grand Etre itu lengkap dengan imam-imam, santo-santo, pesta-pesta liturgy, dan lain-lain. Ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai “suatu agama Katolik tanpa agama Masehi”. Dogma satu-satunya agama ini adalah “cinta kasih sebagai prinsip, tata tertib sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan”.
Altruisme Comte merupakan suatu paradok asal dari hukum tiga zamannya karena ia meninggalkan agama. Bila paham altruisme ini kita bandingkan dengan filsafat Islam, maka akan menampakkan dalam pemikiran yang dikembangkan oleh para filsuf hukum Islam yang membagi dua macam hak. Pertama, mereka sebut haqullah, yakni hak Allah. Kedua, mereka menamai haq adamiyy, yakni hak manusia. Haqullah ini digunakan untuk menjelaskan kepentingan bersama, baik masyarakat maupun Negara, yang merupakan simbil dari kehendak Allah.
            Oleh karena itu, manifestasi dari kehendak Allah itu tercermin dalam berbagai bentuk kebijakan pemimpin Negara (ulil amri). Umpamanya dalam menentukan sanksi hukum atas tindak pidana yang tergolong kepada tindak pidana (jarimah atau delik) ta’zir (yang jenis sanksi hukumnya tidak diatur secara rinci secara tekstual dalam al-Qur’an dan Sunnah Rosul). Sementara haq adamiyy yang berarti hak manusia melambangkan kebebasan individu untuk menggunakan hak pribadinya. Umpamanya dari salah seorang dari keluarga A yang sedang dalam perjalanan menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum’at terbunuh oleh seorang tentara yang sengaja melepaskan tembakan peringatan kepada pencuri yang sedang dikejarnya, tetapi ternyata pelurunya menimpa salah seorang dari keluarga A tadi. Atas tindakan pembunuhan ini sudah jelas bahwa hokum pidana Islam (fiqh jinayah) si tentara mesti mendapat hukuman. Namun demikian, keluarga si A mempunyai hak pemaafan atas tindakan si tentara tadi. Walaupun demikian, si tentara tetap harus mendapatkan sanksi pengganti yang disebut diyat atau semacam denda saja. Hak pemaafan ini merupakan hak pribadi yang dikenal dalam istilah para pakar hukum Islam dengan haq adamiyy.[7]    





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN 
Positivisme
·         Pengetahuan diperoleh oleh indra yang dipertajam dengan alat bantulewat eksperimen.
·         Kebenaran diperoleh denagn akal, didukung bukti empiris yang terukur.
·         Positivism = empirisme + rasionalisme
B.     SARAN
Saya sangat mengharapkan kritik dan saran agar kesalahan saya dapat diperbaiki. Makalah saya sangat jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Apabila dalam makalah ini terdapat kata-kata yang sulit dipahami saya memohon pemakluman. Jikalau ada yang tidak begitu jelas maka bias ditanyakan kepada bapak Dr. Usman, SS, M. Ag dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu.














       


[1] Hardiman, F.Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas. Kanisius, Yogyakarta, 2003, hal 54
                                                                                                                                                                                                2
[2] Praja, Juhaya S, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, Jakarta: kencana, 2010, hal 133-134.
[3] Aceng rahmat, Filsafat Ilmu Lanjutan, Jakarta: 2011, hal 171.                                                                                                                                                                                                                                                                                             3
[4] Mohammad Muslih, filsafat ilmu,kajian atas dasar paradigma dan ilmu pengetahuan, pen: belukar, cet: 3, 2006, Yogyakarta, hal: 91                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4
[5] Aceng rahmat, Filsafat Ilmu Lanjutan, Jakarta: 2011, hal 173-174
                                                                                                                                                                                                6
[6] Praja, Juhaya S, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, Jakarta: kencana, 2010, hal 135-136                                                                                                                                                                                                                                                 7
[7]Ibid, hal 136-138




















Selasa, 15 Maret 2016

makalah hermeneutika


BAB 1
PENDAHULUAN
A  Latar Belakang
Hermeneutika merupakan topic yang sangat popular didunia filsafat. Pengetahuan mengenai hermeneutika yang banyak diartikan oleh tokoh-tokoh filsuf dunia diantaranya,F.D.E.Schleiemacher,Wilhelm Dithey, Gadmer Habermas Ricoeur,dan masih banyak lagi.Mereka semua mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menafsirkan suatu teks dan hasil pemahaman merekapun berbeda-beda. Walaupun mereka mempunyai alasan-alasan atas buah pemikirannya menafsirkan teks, Hermeneutic seakan menjadi perbincanagn menarik untuk dikupas. Melewati makalah ini saya akan mencoba membahas hermeneutika berfokus kepada pemikiran hans georg gadamer. 
B Rumusan Masalah
1.      Biografi hans georg gadamer ?
2.      Latar belakang pemikiran gadamer ?
3.      Hermeneutika dialektis gadamer ?
4.      Karya karya gadamer ?
C Tujuan
1. Mengetahui riwayat hidup Hans Georg Gadamer
2.Bisa mengetahuidan menjelaskan latar belakang pemikiran gadamer
3. Bisa mengetahui dan menjelaskan mengenai hermeneutika dilektis gadamer
4. Dapatmengetahui dan menyebutkan karya karya Gadame



BAB II
PEMBAHASAN
A Riwayat hidup  Hans Georg Gadamer
Hans georg gadamer lahir  dari pasangan Emma caroline Johanna gewiese dan Dr.Johanes gadamer di Marburg,Jerman pada tanggal 11 february 1990. Gadamer melawan desakan ayahnya agar mempelajari ilmu-ilmu alam dan makin lama makin tertarik akan humaniora. Ia bertumbuh dan belajar di Breslau di bawah Hönigswald, namun tak lama kemudian kembali ke Marburg untuk belajar dengan para filsuf Neo-KantianPaul Natorp, dan Nicolai Hartmann. Ia mengikuti kuliah pada Rudolf Bultmann, seorang teologProtestan yang cukup terkenal. Ia mempertahankan disertasinya pada 1922 dan memperoleh gelar doktor filsafat.
Tak lama kemudian, Gadamer mengunjungi Freiburg dan mulai belajar dengan Martin Heidegger, yang saat itu merupakan seorang sarjana muda yang menjanjikan namun belum memperoleh gelar profesor. Ia kemudian menjadi salah satu dari kelompok mahasiswa seperti Leo Strauss, Karl Löwith, dan Hannah Arendt. Ia dan Heidegger menjadi akrab, dan ketika Heidegger mendapatkan posisi di Marburg, Gadamer mengikutinya di sana. Pengaruh Heideggerlah yang memberikan Gadamer pikiran bentuknya yang khas dan menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh neo-Kantian sebelumnya dari Natorp dan Hartmann.
Gadamer menyusun habilitasinya pada 1929 dan menghabiskan masa-masa awal 1930-an menjadi “privatdozent” untuk memberikan kuliah di Marburg dan menjadi profesor ditempat yang sama pada tahun 1937. Pada tahun 1939 ia pindah ke Leipzig. Berbeda dengan Heidegger, Gadamer sangat anti-Nazi, meskipun ia tidak aktif secara politik pada masa Reich Ketiga. Ia tidak memperoleh jabatan yang dibayar pada masa Nazi dan tidak pernah bergabung dengan partai itu. Hanya menjelang akhir Perang Dunia ia menerima pengangkatan di Leipzig.
 Pada 1946, ia terbukti tidak tercemari oleh Naziisme oleh pasukan pendudukan Amerika dan diangkat menjadi rektor universitas. Jerman Timur yang komunis pun tidak disukai Gadamer, dibandingkan dengan Reich Ketiga, dan karena itu ia pindah ke Jerman Barat, tahun 1947 ia pindah ke Frankfrut am Main. Pertama-tama menerima posisi di Frankfurt am Main dan kemudian menggantikan Karl Jaspers di Heidelberg pada 1949. Ia tetap dalam posisi ini, sebagai emeritus atau pensiun, hingga kematiannya pada 13 maret 2002.[1]
B Latar Belakang Pemikiran Gadamer
Hans Georg gadamer adalah penulis kontemporer hermeneutic yang sangat terkemuka. Ia menciptakan buku berjudul warheit und method (kebenaran dan metode) yang sangat popular.
Akan tetapi gadamer tidak bermaksud menjadikan hemeneutik sebagai metode dan berada jauh dari kebenaran. Namun ia ingin menekankan pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Ini karena kebenaran menerangi metode metode individual. Dan metode justru merintangi atau mnghambat kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode akan tetapi melalui dialektika. Mengapa dialektika, karena kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara bebas lebih banyak kemungkinannya dibandingkan dengan proses metodis. Metode yaitu strukturyang dapat membekukan dan memanipulasi unsur unsur yang memudahkan prosedur tanya jawab sedangkan dialektik tidak demikian. Selain itu tidak semua ilmu pengetahuan kemanusiaan bisa diterapi metode. Kesusastraan dan seni juga tidak mengunakan alat metodis satu pun. Hanya hermeneutikalah yang membantu kita memahami ilmu ilmu kemanusiaan tersebut. Didalam bukunya gadamer ada sesuatu hal yang menarik yaitu konsepnya tentang permainan. Dalam hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni,permainan dapat merupakan semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan hermeneutik.
Pemahaman mendampingi kita pada saat menghadapi objek di dunia ini. Kita tidak menyadari hal itu, kita hanya memahami bahwa kita mengerti itu tidak penting bagi kita, namun tanpa kesadaran itu, kita tidak bisa menangkap objek yang kita hadapi. Dalam suatu permainan misalnya main kartu, si pemain tidak menyadari permainan itu sendiri sehingga permainan itu menguasai mereka (para pemain). ”subjek permainan yang sebenarnya bukanlah para pemainnya melainkan pemain itu sendiri” (gadamer, 1986:92).2
Gadamer menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Meski menurutnya hermeneutic adalah pemahaman, namun ia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis. Dalam bukunya philosophical apprenticeships (magang filsafat) ia menulis :  Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin kebenara ? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya sendiri terutama dalam konteks eksistensi (existenz) manusia dan penalaranya (Gadamer, 1985:179). Ada banyak hal seperti rasa lapar dan  perasaan cinta, kerja dan penguasaan,yang pada dasarnya buan ucapan dan bahasa, melainkan hal-hal yang membat[2]asi ruang dimana pengertian “saling berbicara”dan “saling mendengar” dapat menempatinya. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwwwa hal itu terdapat dalam pendapat dan upacara yang ditampilkan setiap orang sehingga menyebabkan refleksibhermeneutik menjadi penting (Ibid,170-180). Pernyataan ini dapat diartikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti motode yang ketat apabila [3]ingin berhubungan dengan existenz atau “manusia autentik”. Yang ingin dikatakan gadamer ialah bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana untuk mencapai kebenaran filosofis. Didalam sains pun dikatakan cara berpikir yang lama sebaiknya dihentikan bila gagasan-gagasan baru sudah ditemukan.3
v  Paham tentang seni
Di bidang seni gadamer menaruh perhatian lebih, karena di dalam seni kita mengalami suatu kebenaran, tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh melalui penalaran tetapi kebenaran yang menurut faktanya “menentang semua jenis penalaran”. Di dalam seni tidak ada aturan aturan yang bersifat universal. Aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Gadamer mengutip pendapat Kant bahwa seni murni adalah seni para genius. Dan kebenarannya tidak dapat dicapai dengan metode ilmiah.[4]



Empat konsep manusia yang memperkaya hermeneutic ;

1.      Bildung(kebudayaan)
Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah, weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, style atau gaya dan symbol,yang kesemuanya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah di dalam sejarah. Istilah-istilah atau term-term tersebut termasuk dalam aturan-aturan pengetahuan tentang hidup dan kemanusiaan. Kata bildung mempunyai arti yang luas dari pada  sekedar “kultur” atau kebudayaan,bahkan mempunyai arti konotasi yang lebih tinggi. Gadmer mengutip pendapat Wilhelm von Humbolt,menyatakan bahwa ,kita menyebut kata bildung, berarti sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mengarah kapada batin. Yaitu tingkah laku pikiran kita sendiri yang mengalir secara harmonis dari pengetahuan dan perasaan tentang seluruh usaha moral dan intelektual ke dalamsensibilitas(kemampuan merasakan) dan karakter. Sinonim kata bildung dalam bahasa latin adalah formation, yaitu bentuk dan formasi. Istilah bildung lebih kaya dari pada kebudayaan sebab terdiri dari kata ”bild” diartikan dalam bahasa jerman sebagai gambaran/model.Seperti alam bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri, sejauh kata bildungziel mempunyai tujuan untuk meluaskan pengertian kata bildung tersebut.
            Bildung yaitu sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. Didalamnya terdapat keterlibatan sejarah secara menyeluruh. Pada dasarnya bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di dalam proses pengumpulannya membentuk dirinya sendiri sebagai yang ideal. Mengingat peristiwa-peristiwa dunia dan melupakan perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggung jawab merupakan bagian dari sejarah hidup seseorang. Maka menurut Gadamer, memori atau kenangan harus di bentuk. Bahkan perbuatan ‘melupakan’yang seringkali dianggap perbuatan yang tidak diinginkan, juga digunakan dalam bildung, sebab hanya dengan melupakan hal-hal yang tidak bertanggung jawab maka pikiran kita mempunyai kesempatan untuk mengadakan pembaharuan secara menyeluruh atau total, yaitu kemampuan melihat segala sesuatu dengan pandangan mata yang segar.
v  Sensus communis
Gadamer mengunakan ungkapan ini bukan sebagai pendapat umum. Namun sensus communis mempunyyai kesastraan arti dengan ekspresi dalam bahasa perancis le bon sens,, yaitu pertimbangan praktis yang baik. Menurut pengertian yang mendasar, istilah ini adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. Hidup di dalam komunitas atau kelopok masyarakat memperkembangkan suatu pandangan tentang kebaikan yang benar dan umum.
v  Pertimbangan
Hampir mirip dengan sensus communis dan selera. Gadamer menyatakan bahwa perbedaan antara orang bodoh dan orang pandai ialah bahwa orang bodoh kekurangan pertimbangan, artinya ia tidak dapat menghimpun kembali apa yang telah dipelajari dan diketahui sehingga ia tidak dapat mempergunakan hal-hal tersebut dengan benar.  
Pertimbangan sifatnya universal, namun bukan berarti berlaku umum. Pertimbangan juga bersifat universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranya memiliki hal itu serta memperggunakannya sebagaimana mestinya.pertimbangan dan sensus communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Bila melalui sensus communis orang memperkembangkan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan, maka atas pertimbangan tersebut orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa.
v  Taste atau selera
Konsep kemanusian ini sulit untuk dimengerti .sebab pada kenyataanya, selera sulit didefinisikan. Orang bisa saja punya selera,tetapi bisa juga tidak punya selera. Pandangan gadamer dalam hal ini tidak bersangkut-paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Menurut gadamer, orang dapat saja menyukai sesuatu yang orang tidak suka. Oleh karenanya, de gustibus, non est disputandum (tentang selera, tidak perlu ada yang diperdebatkan), sebab tidak ada kritaria untuk menentukan selera.
Menurut gadaner selera sama dengan rasa, yyaitu dalam pengoperasiannya tidak memakai pngetahuan akali. Jika selera menunjukkan eaksi negative atas sesuatu, kita tidak tahu sebabnya. Tetapi selera tahu pasti hal itu. Semakin selera dinyatakan pasti maka semakin dirasa hambar.Menurut fakta, selera bertentangan dengan yang tidak menimbulkan selera (Karen tidak ada rasanya atau hambar). Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomemena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan,tetapi kemampuan ini tidak dapat didemonstrasikan.[5]

B Hermeneutika Dialektis Gadamer

v  Struktur pengalaman dan pengalaman hermeneutis
Gadamer memulai menguji pengalaman herneneuitknya dengan mengkritisi konsep pengalaman dari sinilah ia menemukan konsep bahwa pengalaman yang ada terlalu berorientsi kearah konseptual. Yaitu kita cenderung mendefinisikan pengalaman dalam bentuk ang berorientasi ke arah sains dan tidak mengindahkan historisitas pengalamandalam. Berarti kita dengan tidak sadar memenuhi tujuan ilmu yaitu ”mengobyektifkan pengalaman yang meniadakan ragam peristiwa historis terhadapnya”. Gadmer menunjukkan kepeduliannya terhadap mitos pengetahuan konseptual dan verifikasi dengan melontarkan konsep ‘pengalaman historis dan dialektis, dimana pengetahuan bukanlah bias persepsi semata namun merupakan kejadian,peristiwadan perjumpaan. Meski berbeda jalur dengan Hegel gadamer mendapatkan gambaran pengalaman dialektis Hegel yang menjadi poin pertama bagi hermeneutika dialektis gadamer. Pengalaman menurut Hegel yaitu hasil jumpaan kesadaran dengan obyek. Gadmer mengutip Hegel namun ia menolak transendensi itu sendiri karena obyektivitas pengalamannya. Pengalaman, gadamer  menyatakan bahwa  memiliki penggabungan dialektis” tidak dalam pengetahuan tetapi dalam keterbukaan pengalaman, yang lahir dari  ruang bebas pengalaman.” Jelasnya pengalaman disini bukan dimaksudkan untuk beragam pengetahuan informatif yang menjaga ini atau itu.Seperti Gdamer mengunakan term itu, ia tidak bersifat tekins dan keluar dari kebiasaan.ia menunjuk pada non-obyektivasi dan selebihnya akumulasi pemahaman. sementara penggalaman bukan merupakan pengetahuan obyektif, ia termasuk dalam interpretasi perjumpaan dengan masyarakat. Namun bukan merupakan kemampuan personal semata melainkan pengetahuan tentang cara sesuatu, pengetahuan masyarakat yang tidak bisa diletakkan ke dalam term konseptual.pengalaman sering mendorong perasaan baru danpemahaman baru. Ia senantiasa dapat dipelajari, dan tak ada seorang pun yang dapat menutupinya pada kita. ”pengalaman” kata gadamer merupakan persoalan kekecewaan kompleks yang didasari pada dugaan , hanya dengan cara inilah pengalaman dipelajari. Negativitas dan kekecewaan adalah suatuyang integral bagi pengalaman, disana nampak taklebih dari hakikat eksistensi momen negativitas historis menusia yang ditampakkan dalam hakikat pengalaman.  Melihat fakta yang ada gadamer menunjuk tragedy Yunani dan mengajukn formula pathei mathos Aeschylean, melalui sisi penderitaannya. Formula ini tidak dimaksudkan bahwa seseorang belajar bentuk sains ,bahkan juga cara belajar jenis pengetahuan yang semata-mata akan memungkinkan seseorang untuk mengetahui lebih baik masa yang akan datang dalam situasi yang serupa; selebihmya, melalui penderitaanseseorang dapat belajar batas-batas eksistensi manusia itu sendiri. Pengalaman adalah pengalaman keterbatasan. Pengalaman, dalam pengertian nyata dari makna dalam sendiri, mengajarkan seseorang dalam batinnya untuk mengetahui bahwa manusia bukan penguasa waktu. Ia merupakan pengalaman manusia yang mengerti batas-batas seluruh penantian, ketidak pastian seluruh rencana-rencana manusia. Namun ini tidak untuk mengalihkannya pada yang rigid dan dogmatik tetapi lebih membuka bagi pengalaman baru.
Pengalaman nyata menurut gadamer, merupakan pengalaman historisitas seseorang. Dalam pengalaman kekuasaan manusia untuk melakukan dan nalar rencananya timbul berlawanan dengan keterbatasannya. Manusia, yang bergerak dan bertindak dalam sejarah,memperoleh melalui pengalaman pengetahuan ke depan da mana harapan dan rencana masih terbuka untuknya. Kedewasaan dalam pengalaman yang menempatkan seseorang pada peluang itu sendiri untuk kedepan dan bagi masa lalu merupakan suatu esensi yang dimaksudkan Gadamer sebagai kesadaran operatif historis. Dengan observasi dalam pemikiran ini kita bisa mengkarakterisasi pengalaman hermeneutis, yang berkenaan dengan suatu yang dihadapisebagai warisan. Warisan ini yang dalam oerjumpaan hermeneutis harus dialami. Mengingat bahwa pengalaman merupakan peristiwa, warisan seseorang “ bukan peristiwa sepele yang dikenal orang melalui pengalaman dan menjadi alat kontrol. Selebihnya merupakan bahasa, yaitu ia membicarakan seperti dalam konsep thou (kamu). Yang dimaksud Gadamer dengan relasi Aku-Kamu untuk warisan adalah bahwa dalam teks warisan mengarahkan dan menjadikan klaim bagi pembaca, bukan sebagai sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk berbicara. Struktur Aku-Kamu mendorong hubungan dialog atau dialektik. Struktur dialektis pengalaman secara umum, dan pengalaman hermeneutis khususnya, merefleksikan dirinya dalam struktur pertanyaan-jawaban dari semua kenyataan dialog. Namun perlu dipadai bahwa dialektis dalam bentuk orang-per-orang ketimbang bentuk persoalan-subyek. Signifikasi persoalan-subyek dalam bidang dialog akan memunculkan analisis penalaranberikut ini:
v  Struktur penalaran dalam hermeneutika
Gadamer sejauh ini mengatakan bahea dlam seluruh pengalaman, struktur penalaran dipra-ang-gapkan. Pealisasi bahwa beberapa hal adalah lain dari seseorang yang memiliki pemikiran awal mempra-anggapkan proses pelampauan melalui tindakan penalaran. Keterbukaan pengalaman memiliki srtuktur pertanyaan: apakah ia demikian atau begitu ? bila dicermati pengalaman memenuhi dirinya dalam realisasi keterbatasan dan historisitas kita. Sama halnyadalam penalaran, terdapat suatu benteng negativitas yang utama, selalu merupakan pengetahuan dari tidak mengetahui. Ini mendorong gagasan docta ignorantia socrates yang mengilhami negativitas sebenarnya dalam mengetengahkan keseluruhan tindakan penalaran.
            Gadamer mengatakan bahwa secara orisinil mengajukan pertanyaan berarti “ menempatkan dalamketerbukaan”, karena jawabannya belum ditentukan. Maka konsekuensinya, retorika pertanyaan bukanlah suatu pertanyaan hakiki, karena tidak terdapat tindakan penalaran asli ketika sesuatu dibicarakan mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dipertanyakan. Agar dapat bertanya sesorang harus memiliki rasa ingin tahu, yang berarti menyadari bahwa kita tidak mengetahui. Meski begitu ketrbukaan tindakan penalaran tidaklah bersifat absolutkarena sebuah pertanyaan selalu memiliki arah tertentu. Makna bertanya telah mencakup arah dimana jawaban terhadap pertanyaan tersebutharus muncul, bila akan bermakna dan menjadi tepat.[6]

D  Karya Karya Gadamer

Karyanya yang terpenting adalah Wahrheit und Methode(Jerman) atau Truth and Method(Inggris) Grundzuge einer philoshopischen Hermeneutik (1960) (Kebenaran dan Metode. Sebuah Hermeneutika Filosofis menurut Garis Besarnya)[15]. Karya ini, pada dasarnya merupakan dukungan sangat berharga bagi karya salah satu gurunya, Heidegger (Being and Time). Meskipun jelas-jelas merupakan karya filsafat, tulisan Gadamer tersebut telah dibaca tidak hanya oleh para ahli filsafat tetapi juga diminati dan memberikan pengaruh terhadap ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu sosial, dan bahkan ilmu alam[16]. Dengan buku tebal itu Gadamer menjadi filosof terkemuka di bidang Hermeneutika. Pada tahun 1965, diterbitkan cetakan kedua dengan suatu kata pendahuluan yang baru dimana Gadamer menjelaskan maksudnya dan menjawab keberatan-keberatan yang telah dikemukakan sebagaian kritisi, ditambah lagi sebuah lampiran. Pada cetakan ketiga di tahun 1972 masih ditambah suatu kata penutup lagi.
           Sesudah karya besar ini, Gadamer menerbitkan buku Plato to dialektische Ethik un andere Studien zur platonischen Philoshopie (Etika dialektis dan studi-studi lain tentang filsafat plato). Kemudian lahir juga Hegels Dialektik. Funf hermeneutische Studien(1971) (Dialektika Hegel. Lima studi hermeneutika). Berbagi artikel yang ditulis di majalah atau kesempatan lain dikumpulkan dalam empat buku yang berjudul SchriftenI, II, III, IV (1967, 1967, 1972, 1977). Dalam sebuah otobiografi, beliau melukiskan filosof-filosof dan filsafat-filsafat yang telah mempengaruhinya di masa mudanya: Philoshopische Lehrjahre. Eine Ruckshau(1977)( Tahun-tahun saya belajar filsafat: Sebuah retrospeksi 133-134).

Adapun karya lain, diantaranya

v  Primer
  • Philosophical Apprenticeships. Oleh Hans-Georg Gadamer. MIT Press. 1985
  • Truth and Method. Oleh Hans-Georg Gadamer. Edisi revisi ke-2, terj. J. Weinsheimer and D.G.Marshall. New York: Crossroad, 1989.
  • The Relevance of the Beautiful and Other Essays. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. N. Walker. ed. R. Bernasconi, Cambridge: Cambridge University Press, 1986.
  • Gadamer on Celan: ‘Who Am I and Who Are You?’ and Other Essays. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. dan ed. Richard Heinemann dan Bruce Krajewski. Albany, NY: SUNY Press, 1997.
  • Praise of Theory. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. Chris Dawson. New Haven: Yale University Press, 1998.
  • Heidegger's Ways. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. John W. Stanley. New York, SUNY Press, 1994.
  • Literature and Philosophy in Dialogue: Essays in German Literary Theory. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. Robert H. Paslick. New York, SUNY Press, 1993.
v  Sekunder
  • Dostal, Robert L. ed. The Cambridge Companion to Gadamer. Cambridge: Cambridge University Press, 2002.
  • Dunning, Stephen. Paradoxes in Interpretation in Kierkegaard in Post/Modernity. Indianapolis: Indiana University Press, 1995.
  • Code, Lorraine. ed. Feminist Interpretations of Hans-Georg Gadamer. University Park: Penn State Press, 2003.
  • Coltman, Robert. The Language of Hermeneutics: Gadamer and Heidegger in Dialogue. Albany: State University Press, 1998
  • Grondin, Jean. The Philosophy of Gadamer. terj. Kathryn Plant. New York: McGill-Queens University Press, 2002.
  • Grondin, Jean. Hans-Georg Gadamer: A Biography terj. Joel Weinsheimer. New Haven: Yale University Press, 2004.
  • Malpas, Jeff, Ulrich Arnswald dan Jens Kertscher (ed.). Gadamer's Century: Essays in Honour of Hans-Georg Gadamer. Cambridge, Mass.: MIT Press, 2002.
  • Weinsheimer, Joel. Gadamer's Hermeneutics: A Reading of "Truth and Method". New Haven: Yale University Press, 1985.
  • Wright, Kathleen ed. Festivals of Interpretation: Essays on Hans-Georg Gadamer's Work. Albany, NY: SUNY Press, 1990.[7]










BAB III

KESIMPULAN
Gadamer berpendapat bahwa hermeneutic adalah seni, bukan proses mekanik. Jika pemahaman adalah jiwa dari hermeneutic, maka pemahaman tidak dapat dijadikan pelengkap proses mekanis. Gadmer secara mendasar menegaskan bahwa persoalan hermeneutic bukanlah persoalan tentang metode dan tidak mengajarkan tentang metode. Hermeneituk lebih mengarah kepada memahami dan menginterprestasikan sebuah teks. Hermeneutic merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia.
Empat factor dalam interprestasi :
1.      bildung: pembentukan jalan pikiran, mengambarkan cara utama manusia dalam memperkembangkan bakat-bakatnya.
2.      Sensus communis/pertimbangan praktis yang baik: yaitu rasa komunitas karena sensus communis inilah maka kita dapat mengetahui hampir-hampir secara instingtif bagaimana menangani interprestasi.
3.      Pertimbangan:  mengolong-golongkan hal-hal  yang kusus atas dasar pandangan universal,  atau mengenali sesuatu sebagai contoh perwujudan hokum.
4.      Selera: yaitu keseimbangan antara insting panca indra dengan kebebasan intelektual.
SARAN
Saran saya yaitu pengetahuan filsafat sangat banyak akan tetapi sangat sulit untuk dipelajari,  khususnya bagi orang yang baru tahu / awam .  Akan tetapi jika kita mau berusaha untuk belajar pasti mudah karena filsafat itu menarik. Apabila ada hal yang tidak sesuai kritik dan saran anda sangat saya harapkan.



DAFTAR PUSTAKA
wikipedia.org/wiki/Hans-Georg_Gadamerhttp://agungsukron99.blogspot.co.id/2014/01/makalah-hermeneutika-hans-george-gadamer.html
Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993
Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993), hal. 63.
Palmer, Richard E, Hermemeutikateoribarumengenaiinterpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003),hal 231.















2 Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993), hal. 63-64

3 ibid, hal.64-65

[4] ibid, hal.65

5 ibid, hal 66-71
[6]Palmer, Richard E, Hermemeutikateoribarumengenaiinterpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003),hal 231-235