BAB 1
PENDAHULUAN
A
Latar Belakang
Hermeneutika merupakan topic yang sangat popular
didunia filsafat. Pengetahuan mengenai hermeneutika yang banyak diartikan oleh tokoh-tokoh
filsuf dunia diantaranya,F.D.E.Schleiemacher,Wilhelm Dithey, Gadmer Habermas
Ricoeur,dan masih banyak lagi.Mereka semua mempunyai
cara yang berbeda-beda dalam menafsirkan suatu teks dan hasil pemahaman
merekapun berbeda-beda. Walaupun mereka mempunyai alasan-alasan atas buah
pemikirannya menafsirkan teks, Hermeneutic seakan
menjadi perbincanagn menarik untuk dikupas. Melewati makalah ini saya akan
mencoba membahas hermeneutika berfokus kepada pemikiran hans georg
gadamer.
B
Rumusan Masalah
1. Biografi
hans georg gadamer ?
2. Latar
belakang pemikiran gadamer ?
3. Hermeneutika
dialektis gadamer ?
4. Karya
karya gadamer ?
C
Tujuan
1.
Mengetahui riwayat hidup Hans Georg Gadamer
2.Bisa
mengetahuidan menjelaskan latar belakang pemikiran gadamer
3.
Bisa mengetahui dan menjelaskan mengenai hermeneutika dilektis gadamer
4.
Dapatmengetahui dan menyebutkan karya karya Gadame
BAB II
PEMBAHASAN
A
Riwayat hidup Hans Georg Gadamer
Hans georg
gadamer lahir dari pasangan Emma
caroline Johanna gewiese dan Dr.Johanes gadamer di Marburg,Jerman pada tanggal
11 february 1990. Gadamer melawan desakan ayahnya agar mempelajari ilmu-ilmu alam dan makin
lama makin tertarik akan humaniora. Ia bertumbuh dan belajar di Breslau
di bawah Hönigswald, namun tak lama
kemudian kembali ke Marburg untuk belajar dengan para filsuf Neo-KantianPaul Natorp,
dan Nicolai Hartmann. Ia
mengikuti kuliah pada Rudolf Bultmann, seorang teologProtestan
yang cukup terkenal. Ia mempertahankan disertasinya
pada 1922 dan memperoleh gelar doktor filsafat.
Tak lama
kemudian, Gadamer mengunjungi Freiburg dan mulai belajar dengan Martin Heidegger,
yang saat itu merupakan seorang sarjana muda yang menjanjikan namun belum
memperoleh gelar profesor. Ia kemudian menjadi salah satu dari kelompok
mahasiswa seperti Leo Strauss, Karl Löwith, dan Hannah Arendt.
Ia dan Heidegger menjadi akrab, dan ketika Heidegger mendapatkan posisi di Marburg,
Gadamer mengikutinya di sana. Pengaruh Heideggerlah yang memberikan Gadamer
pikiran bentuknya yang khas dan menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh
neo-Kantian sebelumnya dari Natorp dan Hartmann.
Gadamer
menyusun habilitasinya pada
1929 dan menghabiskan masa-masa awal 1930-an menjadi “privatdozent” untuk
memberikan kuliah di Marburg dan menjadi profesor ditempat yang sama pada tahun
1937. Pada tahun 1939 ia pindah ke Leipzig. Berbeda dengan Heidegger, Gadamer
sangat anti-Nazi,
meskipun ia tidak aktif secara politik pada masa Reich Ketiga.
Ia tidak memperoleh jabatan yang dibayar pada masa Nazi dan tidak pernah
bergabung dengan partai itu. Hanya menjelang akhir Perang Dunia ia menerima
pengangkatan di Leipzig.
Pada 1946, ia terbukti tidak tercemari oleh
Naziisme oleh pasukan pendudukan Amerika dan diangkat menjadi rektor
universitas. Jerman Timur yang komunis pun tidak disukai Gadamer, dibandingkan
dengan Reich Ketiga, dan karena itu ia pindah ke Jerman Barat, tahun 1947 ia
pindah ke Frankfrut am Main. Pertama-tama menerima posisi di Frankfurt am
Main dan kemudian menggantikan Karl Jaspers
di Heidelberg
pada 1949. Ia tetap dalam posisi ini, sebagai emeritus atau pensiun, hingga
kematiannya pada 13 maret 2002.[1]
B Latar
Belakang Pemikiran Gadamer
Hans
Georg gadamer adalah penulis kontemporer hermeneutic yang sangat terkemuka. Ia
menciptakan buku berjudul warheit und method (kebenaran dan metode) yang sangat
popular.
Akan
tetapi gadamer tidak bermaksud menjadikan hemeneutik sebagai metode dan berada
jauh dari kebenaran. Namun ia ingin menekankan pemahaman yang mengarah pada
tingkat ontologis, bukan metodologis. Ini karena kebenaran menerangi metode
metode individual. Dan metode justru merintangi atau mnghambat kebenaran.
Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode akan tetapi melalui
dialektika. Mengapa dialektika, karena kesempatan untuk mengajukan pertanyaan
secara bebas lebih banyak kemungkinannya dibandingkan dengan proses metodis.
Metode yaitu strukturyang dapat membekukan dan memanipulasi unsur unsur yang
memudahkan prosedur tanya jawab sedangkan dialektik tidak demikian. Selain itu
tidak semua ilmu pengetahuan kemanusiaan bisa diterapi metode. Kesusastraan dan
seni juga tidak mengunakan alat metodis satu pun. Hanya hermeneutikalah yang
membantu kita memahami ilmu ilmu kemanusiaan tersebut. Didalam bukunya gadamer
ada sesuatu hal yang menarik yaitu konsepnya tentang permainan. Dalam
hubungannya dengan pengalaman dalam bidang seni,permainan dapat merupakan
semacam kerangka berpikir di dalam proses memahami yang menjadi pokok bahasan
hermeneutik.
Pemahaman
mendampingi kita pada saat menghadapi objek di dunia ini. Kita tidak menyadari
hal itu, kita hanya memahami bahwa kita mengerti itu tidak penting bagi kita,
namun tanpa kesadaran itu, kita tidak bisa menangkap objek yang kita hadapi.
Dalam suatu permainan misalnya main kartu, si pemain tidak menyadari permainan
itu sendiri sehingga permainan itu menguasai mereka (para pemain). ”subjek
permainan yang sebenarnya bukanlah para pemainnya melainkan pemain itu sendiri”
(gadamer, 1986:92).2
Gadamer
menolak konsep hermeneutic sebagai metode. Meski menurutnya hermeneutic adalah
pemahaman, namun ia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis.
Dalam bukunya philosophical apprenticeships (magang filsafat) ia menulis : Dapatkah tujuan sebuah metode menjamin
kebenara ? Filsafat harus menuntut sains dan metodenya supaya mengenali dirinya
sendiri terutama dalam konteks eksistensi (existenz) manusia dan penalaranya
(Gadamer, 1985:179). Ada banyak hal seperti rasa lapar dan perasaan cinta, kerja dan penguasaan,yang
pada dasarnya buan ucapan dan bahasa, melainkan hal-hal yang membat[2]asi
ruang dimana pengertian “saling berbicara”dan “saling mendengar” dapat
menempatinya. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwwwa hal itu terdapat dalam
pendapat dan upacara yang ditampilkan setiap orang sehingga menyebabkan
refleksibhermeneutik menjadi penting (Ibid,170-180).
Pernyataan ini dapat diartikan bahwa filsafat tidak usah mengikuti motode yang
ketat apabila [3]ingin
berhubungan dengan existenz atau
“manusia autentik”. Yang ingin dikatakan gadamer ialah bahwa logika sendiri
sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana untuk mencapai kebenaran filosofis.
Didalam sains pun dikatakan cara berpikir yang lama sebaiknya dihentikan bila
gagasan-gagasan baru sudah ditemukan.3
v Paham
tentang seni
Di
bidang seni gadamer menaruh perhatian lebih, karena di dalam seni kita
mengalami suatu kebenaran, tetapi bukan kebenaran yang kita peroleh
melalui penalaran tetapi kebenaran yang menurut faktanya “menentang semua jenis
penalaran”. Di dalam seni tidak ada aturan aturan yang bersifat universal.
Aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Gadamer mengutip pendapat
Kant bahwa seni murni adalah seni para genius. Dan kebenarannya tidak dapat
dicapai dengan metode ilmiah.[4]
Empat
konsep manusia yang memperkaya hermeneutic ;
1. Bildung(kebudayaan)
Bildung
adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah, weltanschauung (pandangan
dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi
atau ungkapan, style atau gaya dan symbol,yang kesemuanya itu kita mengerti saat
ini sebagai istilah-istilah di dalam sejarah. Istilah-istilah atau term-term
tersebut termasuk dalam aturan-aturan pengetahuan tentang hidup dan
kemanusiaan. Kata bildung mempunyai arti yang luas dari pada sekedar “kultur” atau kebudayaan,bahkan
mempunyai arti konotasi yang lebih tinggi. Gadmer mengutip pendapat Wilhelm von
Humbolt,menyatakan bahwa ,kita menyebut kata bildung, berarti sesuatu yang
lebih tinggi dan lebih mengarah kapada batin. Yaitu tingkah laku pikiran kita
sendiri yang mengalir secara harmonis dari pengetahuan dan perasaan tentang
seluruh usaha moral dan intelektual ke dalamsensibilitas(kemampuan merasakan)
dan karakter. Sinonim kata bildung dalam bahasa latin adalah formation, yaitu bentuk dan formasi.
Istilah bildung lebih kaya dari pada kebudayaan sebab terdiri dari kata ”bild” diartikan dalam bahasa jerman sebagai
gambaran/model.Seperti alam bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya
sendiri, sejauh kata bildungziel
mempunyai tujuan untuk meluaskan pengertian kata bildung tersebut.
Bildung
yaitu sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan
interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan. Didalamnya terdapat keterlibatan sejarah
secara menyeluruh. Pada dasarnya bildung adalah “kumpulan kenangan” yang di
dalam proses pengumpulannya membentuk dirinya sendiri sebagai yang ideal. Mengingat
peristiwa-peristiwa dunia dan melupakan perbuatan-perbuatan yang tidak
bertanggung jawab merupakan bagian dari sejarah hidup seseorang. Maka menurut
Gadamer, memori atau kenangan harus di bentuk. Bahkan perbuatan ‘melupakan’yang
seringkali dianggap perbuatan yang tidak diinginkan, juga digunakan dalam
bildung, sebab hanya dengan melupakan hal-hal yang tidak bertanggung jawab maka
pikiran kita mempunyai kesempatan untuk mengadakan pembaharuan secara
menyeluruh atau total, yaitu kemampuan melihat segala sesuatu dengan pandangan
mata yang segar.
v Sensus
communis
Gadamer
mengunakan ungkapan ini bukan sebagai pendapat umum. Namun sensus communis mempunyyai kesastraan arti dengan ekspresi dalam
bahasa perancis le bon sens,, yaitu pertimbangan
praktis yang baik. Menurut pengertian yang mendasar, istilah ini adalah
pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup.
Hidup di dalam komunitas atau kelopok masyarakat memperkembangkan suatu
pandangan tentang kebaikan yang benar dan umum.
v Pertimbangan
Hampir
mirip dengan sensus communis dan
selera. Gadamer menyatakan bahwa perbedaan antara orang bodoh dan orang pandai
ialah bahwa orang bodoh kekurangan pertimbangan, artinya ia tidak dapat
menghimpun kembali apa yang telah dipelajari dan diketahui sehingga ia tidak
dapat mempergunakan hal-hal tersebut dengan benar.
Pertimbangan
sifatnya universal, namun bukan berarti berlaku umum. Pertimbangan juga
bersifat universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranya memiliki hal
itu serta memperggunakannya sebagaimana mestinya.pertimbangan dan sensus
communis keduanya termasuk dalam interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Bila
melalui sensus communis orang memperkembangkan pandangan tentang kebaikan umum
atau cinta kemanusiaan, maka atas pertimbangan tersebut orang dapat
memilah-milah macam-macam peristiwa.
v Taste
atau selera
Konsep
kemanusian ini sulit untuk dimengerti .sebab pada kenyataanya, selera sulit
didefinisikan. Orang bisa saja punya selera,tetapi bisa juga tidak punya
selera. Pandangan gadamer dalam hal ini tidak bersangkut-paut dengan
kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Menurut gadamer,
orang dapat saja menyukai sesuatu yang orang tidak suka. Oleh karenanya, de gustibus, non est disputandum
(tentang selera, tidak perlu ada yang diperdebatkan), sebab tidak ada kritaria
untuk menentukan selera.
Menurut
gadaner selera sama dengan rasa, yyaitu dalam pengoperasiannya tidak memakai
pngetahuan akali. Jika selera menunjukkan eaksi negative atas sesuatu, kita
tidak tahu sebabnya. Tetapi selera tahu pasti hal itu. Semakin selera
dinyatakan pasti maka semakin dirasa hambar.Menurut fakta, selera bertentangan
dengan yang tidak menimbulkan selera (Karen tidak ada rasanya atau hambar).
Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan
selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomemena selera adalah kemampuan intelektual
untuk membuat diferensiasi atau pembedaan,tetapi kemampuan ini tidak dapat didemonstrasikan.[5]
B
Hermeneutika Dialektis Gadamer
v Struktur
pengalaman dan pengalaman hermeneutis
Gadamer
memulai menguji pengalaman herneneuitknya dengan mengkritisi konsep pengalaman
dari sinilah ia menemukan konsep bahwa pengalaman yang ada terlalu berorientsi
kearah konseptual. Yaitu kita cenderung mendefinisikan pengalaman dalam bentuk
ang berorientasi ke arah sains dan tidak mengindahkan historisitas pengalamandalam.
Berarti kita dengan tidak sadar memenuhi tujuan ilmu yaitu ”mengobyektifkan
pengalaman yang meniadakan ragam peristiwa historis terhadapnya”. Gadmer
menunjukkan kepeduliannya terhadap mitos pengetahuan konseptual dan verifikasi
dengan melontarkan konsep ‘pengalaman historis dan dialektis, dimana
pengetahuan bukanlah bias persepsi semata namun merupakan kejadian,peristiwadan
perjumpaan. Meski berbeda jalur dengan Hegel gadamer mendapatkan gambaran
pengalaman dialektis Hegel yang menjadi poin pertama bagi hermeneutika
dialektis gadamer. Pengalaman menurut Hegel yaitu hasil jumpaan kesadaran
dengan obyek. Gadmer mengutip Hegel namun ia menolak transendensi itu sendiri
karena obyektivitas pengalamannya. Pengalaman, gadamer menyatakan bahwa memiliki penggabungan dialektis” tidak dalam
pengetahuan tetapi dalam keterbukaan pengalaman, yang lahir dari ruang bebas pengalaman.” Jelasnya pengalaman
disini bukan dimaksudkan untuk beragam pengetahuan informatif yang menjaga ini
atau itu.Seperti Gdamer mengunakan term itu, ia tidak bersifat tekins dan
keluar dari kebiasaan.ia menunjuk pada non-obyektivasi dan selebihnya akumulasi
pemahaman. sementara penggalaman bukan merupakan pengetahuan obyektif, ia
termasuk dalam interpretasi perjumpaan dengan masyarakat. Namun bukan merupakan
kemampuan personal semata melainkan pengetahuan tentang cara sesuatu,
pengetahuan masyarakat yang tidak bisa diletakkan ke dalam term konseptual.pengalaman
sering mendorong perasaan baru danpemahaman baru. Ia senantiasa dapat
dipelajari, dan tak ada seorang pun yang dapat menutupinya pada kita. ”pengalaman”
kata gadamer merupakan persoalan kekecewaan kompleks yang didasari pada dugaan
, hanya dengan cara inilah pengalaman dipelajari. Negativitas dan kekecewaan
adalah suatuyang integral bagi pengalaman, disana nampak taklebih dari hakikat
eksistensi momen negativitas historis menusia yang ditampakkan dalam hakikat
pengalaman. Melihat fakta yang ada
gadamer menunjuk tragedy Yunani dan mengajukn formula pathei mathos Aeschylean, melalui sisi penderitaannya. Formula ini
tidak dimaksudkan bahwa seseorang belajar bentuk sains ,bahkan juga cara
belajar jenis pengetahuan yang semata-mata akan memungkinkan seseorang untuk mengetahui
lebih baik masa yang akan datang dalam situasi yang serupa; selebihmya, melalui
penderitaanseseorang dapat belajar batas-batas eksistensi manusia itu sendiri.
Pengalaman adalah pengalaman keterbatasan. Pengalaman, dalam pengertian nyata
dari makna dalam sendiri, mengajarkan seseorang dalam batinnya untuk mengetahui
bahwa manusia bukan penguasa waktu. Ia merupakan pengalaman manusia yang
mengerti batas-batas seluruh penantian, ketidak pastian seluruh rencana-rencana
manusia. Namun ini tidak untuk mengalihkannya pada yang rigid dan dogmatik tetapi
lebih membuka bagi pengalaman baru.
Pengalaman
nyata menurut gadamer, merupakan pengalaman historisitas seseorang. Dalam
pengalaman kekuasaan manusia untuk melakukan dan nalar rencananya timbul
berlawanan dengan keterbatasannya. Manusia, yang bergerak dan bertindak dalam
sejarah,memperoleh melalui pengalaman pengetahuan ke depan da mana harapan dan
rencana masih terbuka untuknya. Kedewasaan dalam pengalaman yang menempatkan
seseorang pada peluang itu sendiri untuk kedepan dan bagi masa lalu merupakan
suatu esensi yang dimaksudkan Gadamer sebagai kesadaran operatif historis. Dengan
observasi dalam pemikiran ini kita bisa mengkarakterisasi pengalaman
hermeneutis, yang berkenaan dengan suatu yang dihadapisebagai warisan. Warisan
ini yang dalam oerjumpaan hermeneutis harus dialami. Mengingat bahwa pengalaman
merupakan peristiwa, warisan seseorang “ bukan peristiwa sepele yang dikenal
orang melalui pengalaman dan menjadi alat kontrol. Selebihnya merupakan bahasa,
yaitu ia membicarakan seperti dalam konsep thou
(kamu). Yang dimaksud Gadamer dengan relasi Aku-Kamu untuk warisan adalah bahwa
dalam teks warisan mengarahkan dan menjadikan klaim bagi pembaca, bukan sebagai
sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk berbicara. Struktur Aku-Kamu
mendorong hubungan dialog atau dialektik. Struktur dialektis pengalaman secara
umum, dan pengalaman hermeneutis khususnya, merefleksikan dirinya dalam
struktur pertanyaan-jawaban dari semua kenyataan dialog. Namun perlu dipadai
bahwa dialektis dalam bentuk orang-per-orang ketimbang bentuk persoalan-subyek.
Signifikasi persoalan-subyek dalam bidang dialog akan memunculkan analisis
penalaranberikut ini:
v Struktur
penalaran dalam hermeneutika
Gadamer
sejauh ini mengatakan bahea dlam seluruh pengalaman, struktur penalaran dipra-ang-gapkan.
Pealisasi bahwa beberapa hal adalah lain dari seseorang yang memiliki pemikiran
awal mempra-anggapkan proses pelampauan melalui tindakan penalaran. Keterbukaan
pengalaman memiliki srtuktur pertanyaan: apakah ia demikian atau begitu ? bila
dicermati pengalaman memenuhi dirinya dalam realisasi keterbatasan dan
historisitas kita. Sama halnyadalam penalaran, terdapat suatu benteng
negativitas yang utama, selalu merupakan pengetahuan dari tidak mengetahui. Ini
mendorong gagasan docta ignorantia
socrates yang mengilhami negativitas sebenarnya dalam mengetengahkan
keseluruhan tindakan penalaran.
Gadamer mengatakan bahwa secara
orisinil mengajukan pertanyaan berarti “ menempatkan dalamketerbukaan”, karena
jawabannya belum ditentukan. Maka konsekuensinya, retorika pertanyaan bukanlah
suatu pertanyaan hakiki, karena tidak terdapat tindakan penalaran asli ketika
sesuatu dibicarakan mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah
dipertanyakan. Agar dapat bertanya sesorang harus memiliki rasa ingin tahu,
yang berarti menyadari bahwa kita tidak mengetahui. Meski begitu ketrbukaan
tindakan penalaran tidaklah bersifat absolutkarena sebuah pertanyaan selalu
memiliki arah tertentu. Makna bertanya telah mencakup arah dimana jawaban terhadap
pertanyaan tersebutharus muncul, bila akan bermakna dan menjadi tepat.[6]
D
Karya Karya Gadamer
Karyanya yang terpenting adalah Wahrheit und Methode(Jerman)
atau Truth and Method(Inggris) Grundzuge einer philoshopischen
Hermeneutik (1960) (Kebenaran dan Metode. Sebuah Hermeneutika Filosofis menurut
Garis Besarnya)[15]. Karya ini, pada dasarnya merupakan dukungan
sangat berharga bagi karya salah satu gurunya, Heidegger (Being and Time).
Meskipun jelas-jelas merupakan karya filsafat, tulisan Gadamer tersebut telah
dibaca tidak hanya oleh para ahli filsafat tetapi juga diminati dan memberikan
pengaruh terhadap ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu sosial, dan bahkan ilmu alam[16].
Dengan buku tebal itu Gadamer menjadi filosof terkemuka di bidang Hermeneutika.
Pada tahun 1965, diterbitkan cetakan kedua dengan suatu kata pendahuluan yang
baru dimana Gadamer menjelaskan maksudnya dan menjawab keberatan-keberatan yang
telah dikemukakan sebagaian kritisi, ditambah lagi sebuah lampiran. Pada
cetakan ketiga di tahun 1972 masih ditambah suatu kata penutup lagi.
Sesudah karya besar
ini, Gadamer menerbitkan buku Plato to dialektische Ethik un andere Studien zur
platonischen Philoshopie (Etika dialektis dan studi-studi lain tentang filsafat
plato). Kemudian lahir juga Hegels Dialektik. Funf hermeneutische Studien(1971)
(Dialektika Hegel. Lima studi hermeneutika). Berbagi artikel yang ditulis di
majalah atau kesempatan lain dikumpulkan dalam empat buku yang berjudul
SchriftenI, II, III, IV (1967, 1967, 1972, 1977). Dalam sebuah otobiografi,
beliau melukiskan filosof-filosof dan filsafat-filsafat yang telah
mempengaruhinya di masa mudanya: Philoshopische Lehrjahre. Eine Ruckshau(1977)(
Tahun-tahun saya belajar filsafat: Sebuah retrospeksi 133-134).
Adapun karya lain,
diantaranya
v Primer
- Philosophical Apprenticeships. Oleh Hans-Georg Gadamer. MIT Press. 1985
- Truth and Method. Oleh Hans-Georg Gadamer. Edisi revisi ke-2, terj. J. Weinsheimer and
D.G.Marshall. New York: Crossroad, 1989.
- The Relevance of the Beautiful and Other Essays. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. N. Walker.
ed. R. Bernasconi, Cambridge: Cambridge University Press, 1986.
- Gadamer on Celan: ‘Who Am I and Who Are You?’ and Other Essays. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. dan ed.
Richard Heinemann dan Bruce Krajewski. Albany, NY: SUNY Press, 1997.
- Praise of Theory. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. Chris Dawson. New Haven: Yale
University Press, 1998.
- Heidegger's Ways. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. John W. Stanley. New York, SUNY
Press, 1994.
- Literature and Philosophy in Dialogue: Essays in German Literary
Theory. Oleh Hans-Georg Gadamer. terj. Robert H. Paslick. New York, SUNY
Press, 1993.
v Sekunder
- Dostal, Robert L. ed. The Cambridge Companion to Gadamer.
Cambridge: Cambridge University Press, 2002.
- Dunning, Stephen. Paradoxes in Interpretation in Kierkegaard in
Post/Modernity. Indianapolis: Indiana University Press, 1995.
- Code, Lorraine. ed. Feminist Interpretations of Hans-Georg Gadamer.
University Park: Penn State Press, 2003.
- Coltman, Robert. The Language of Hermeneutics: Gadamer and
Heidegger in Dialogue. Albany: State University Press, 1998
- Grondin, Jean. The Philosophy of Gadamer. terj. Kathryn Plant.
New York: McGill-Queens University Press, 2002.
- Grondin, Jean. Hans-Georg Gadamer: A Biography terj. Joel
Weinsheimer. New Haven: Yale University Press, 2004.
- Malpas, Jeff, Ulrich Arnswald dan Jens Kertscher (ed.). Gadamer's
Century: Essays in Honour of Hans-Georg Gadamer. Cambridge, Mass.: MIT
Press, 2002.
- Weinsheimer, Joel. Gadamer's Hermeneutics: A Reading of "Truth
and Method". New Haven: Yale University Press, 1985.
- Wright, Kathleen ed. Festivals of Interpretation: Essays on
Hans-Georg Gadamer's Work. Albany, NY: SUNY Press, 1990.[7]
BAB III
KESIMPULAN
Gadamer berpendapat bahwa hermeneutic
adalah seni, bukan proses mekanik. Jika pemahaman adalah jiwa dari hermeneutic,
maka pemahaman tidak dapat dijadikan pelengkap proses mekanis. Gadmer secara
mendasar menegaskan bahwa persoalan hermeneutic bukanlah persoalan tentang
metode dan tidak mengajarkan tentang metode. Hermeneituk lebih mengarah kepada
memahami dan menginterprestasikan sebuah teks. Hermeneutic merupakan bagian
dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia.
Empat factor dalam interprestasi :
1. bildung: pembentukan jalan pikiran,
mengambarkan cara utama manusia dalam memperkembangkan bakat-bakatnya.
2. Sensus communis/pertimbangan praktis
yang baik: yaitu rasa komunitas karena sensus communis inilah maka kita dapat
mengetahui hampir-hampir secara instingtif bagaimana menangani interprestasi.
3. Pertimbangan: mengolong-golongkan hal-hal yang kusus atas dasar pandangan
universal, atau mengenali sesuatu
sebagai contoh perwujudan hokum.
4. Selera: yaitu keseimbangan antara
insting panca indra dengan kebebasan intelektual.
SARAN
Saran saya yaitu pengetahuan filsafat
sangat banyak akan tetapi sangat sulit untuk dipelajari, khususnya bagi orang yang baru tahu / awam
. Akan tetapi jika kita mau berusaha untuk
belajar pasti mudah karena filsafat itu menarik. Apabila ada hal yang tidak
sesuai kritik dan saran anda sangat saya harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
wikipedia.org/wiki/Hans-Georg_Gadamerhttp://agungsukron99.blogspot.co.id/2014/01/makalah-hermeneutika-hans-george-gadamer.html
Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat,
Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993
Sumaryono, Hermeneutik
Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993), hal. 63.
Palmer, Richard E, Hermemeutikateoribarumengenaiinterpretasi, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,2003),hal 231.
2 Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode
Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1993), hal. 63-64
[6]Palmer, Richard E, Hermemeutikateoribarumengenaiinterpretasi,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003),hal 231-235
Tidak ada komentar:
Posting Komentar